Selasa, 20 Oktober 2009 diberitakan di salah satu stasiun televisi swasta bahwa di Jakarta Timur dilakukan Operasi Yustisi Buang Sampah (CMIIW). Yang kedapatan buang sampah atau merokok sembarangan, dikenakan denda 30-50rb dengan sidang di tempat. Langkah maju dari pemerintah daerah DKI Jakarta dalam menangani sampah dan menjamin penerapan Perda berhubungan dengan sampah dan larangan merokok di tempat umum. Semoga program ini bisa terus dijalankan secara konsisten, karena memang perlu penegakkan peraturan secara konsisten dari waktu ke waktu dengan sanksi yang sesuai dengan peraturan. Indonesia tidak bisa diatur dengan cara halus, harus ada sedikit paksaan, sanksi dan hukuman untuk menjalankan program-program yang diyakini besar manfaatnya dikemudian hari.
Saya jadi ingat saat berkunjung ke Korea Selatan beberapa tahun lalu. Seoul, walaupun bukan merupakan kota terbersih di dunia, tapi bila dibandingkan dengan Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia, mereka sudah jauh lebih baik. Di pusat kota tidak terlihat lagi gundukan sampah sembarangan, taman-taman dengan bunga berwarna warnipun menghiasi tepian jalan kota. Bersyukur Jasa Marga saat ini sudah mulai berbenah dengan penghijauan di pingir jalan tol, kecuali jalan tol dalam kota jakarta.
Nandini, seorang teman kantor yang begitu menyenangi budaya Jepang sering mencibir “Orang jakarta tidak mau kena banjir, tapi kok buang sampah sembarangan aja” kesal saat melihat seseorang dengan entengnya melempar bungkus makanan ke jalanan.
Saya bahkan punya pengalaman menarik, saat mengendarai SupraX 125 CW saya ke arah Warung Jambu-Bogor lewat Jl. Ciremai. Saat itu memang hujan sedang derasnya, alhasil permukaan jalan jadi tempat mengalirnya air hujan tersebut sebelum masuk ke gorong-gorong di kiri-kanan jalan. Saat ditikungan, saya begitu kaget ketika ada seorang Bapak yang menumpahkan isi tempat sampahnya ke jalanan persis sesaat saya mau lewat di depannya. Luar biasa memang sulitnya memupuk kebiasaan baik membuang sampah. Kebaikan si Bapak membuang sampah di tempat sampah yang ada di rumahnya jadi percuma saat jalanan dengan air mengalir menjadi pembuangan akhirnya. Mungkin si Bapak berfikir “Yang penting sampah itu tak lagi ada di rumahnya”. Padahal dengan begitu dia hanya memindahkan masalah dari rumah ke tempat lain saja, tidak menyelesaikan masalah sama sekali.

nabung sampah
Jika di Bantul, telah sukses didirikan Bank Sampah yang dapat mengatasi sampah menjadi barang bernilai jual tingi, kenapa daerah lain tidak. Kita hanya perlu komitmen dan kerja keras dari semua pihak untuk mewujudkannya. Jangan menyerah karena penolakan sebagian warga, karea Bank Sampah di Bantul-pun pada awalnya hanya didukung sedikit warga.
Bagaimana menurut Anda?
Gambar dari http://ester-journey.blogspot.com






