Kagumku padamu tak seperti kagumku pada jenismu 1-4 tahun lalu (saat itu). Kagumku padamu karena sejak pertama bertemu aku melihat pancaran aura yang terang dari parasmu. Terlebih saat terjadi perubahan yang luar biasa padamu, menjadi lebih tertutup dengan hijab itu. Aku sugguh bahagia dengan kekagumanku ini, walaupun aku tahu ketakpantasanku memilikimu sampai aku memutuskan untuk membiarkan Sang Pencipta mengatur langkahmu dan langkahku, walau diluar inginku.
Selang beberapa tahun, kembali aku dibuat kagum dengan jenismu. Kali ini bukan karena aura yang dilihat, tapi karena jalan hidup yang begitu mengagumkan. Aku mendengar keteguhan dalam dirimu dalam memperjuangkan hidup dan kehidupan. Aku kagum mendengar caramu mengatasi masalah dengan sangat dewasa di usiamu yang kupandang masih belia. Sungguh aku kagum, sehingga aku memutuskan untuk menjadikanmu calon pendamping hidupku kelak, walau kuhanya mengandalkan komitmen, tak lebih. Karena kusadar tak bisa memberikan apa yang kau harapkan.
Suatu sore, enam tahun setelah pendengaranku dibuat kagum, kembali aku mendengar kekaguman dalam jiwa belia jenismu dalam sebuah perjalanan kembali ke perantauan. “Aku ga mau diajak jalan2, kongkow, window shoping, nonton, ketawa-ketiwi, ngeceng sama teman-teman. Sudah lewat masaku menghabiskan itu semua saat SMP dan awal SMA. Setelah difikir, semua itu hampir ga ada artinya. Sekarang aku ingin yang terbaik bagiku dan keluarga, menyongsong masa depan.” Seketika aku takjub dengan gelombang suara yang ditangkap genderang telingaku yang kemudian disampaikan ke otak. Luar biasa, bahkan saat kau menyatakan bahwa ‘kamu suka ngemil tapi badanku ga pernah gemuk’ dengan nada childish tanpa membuat aku beranggapan kamu seorang anak kecil.
Ah…itu hanya kekaguman saja. Aku masih punya komitmen dengan jenismu yang berjiwa kuat, yang teguh memperjuangkan hidup dan kehidupannya, yang berani menerabas batasan-batasan demi keberhasilan.
Aku tak tahu kekaguman macam apa lagi terhadap jenismu kelak. Namun sungguh, aku berharap kekaguman itu hanya karena Allah yang telah mencipta, sehingga dengan kekagumanku terhadap sejenismu, aku bisa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Sungguh aku rindu untuk ‘pulang’ dalam keadaan ‘bersih’ dan aku butuh teman untuk itu. Kagumku Padamu karena Allah….adalah gerbang yang harus aku lewati untuk Kembali Pada-Nya.

5 Komentar Terakhir